Kamis, 22 November 2012

Hukum Islam tentang Muamalah


Hukum Islam Tentang Muamalah








Nama        : Nadya Ayu N.
Kelas        : XI IA4
Absen       : 27









DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………..1
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………….2
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar belakang……………………………………………………………………....3
B.    Rumusan masalah………………………………………………………………….4
C.   Tujuan penulisan…………………………………………………………………...4
D.   Manfaat penulisan………………………………………………………………….4
BAB II PEMBAHASAN
A.       Pengertian Muamalah ……………………………………………………….…….8
B.       Asas-asas Transaksi Ekonomi dalam Islam……………………………………..9
C.      Penerapan Transaksi Ekonomi dalam Islam………………..…………………...10
D.      Kerja sama ekonomi dalam islam…………………………………………………11
BAB III KESIMPULAN
A.       KESIMPULAN……………………………………………………...………12
B.       SARAN…………………………………………………………..………….13
DAFTAR PUSTAKA











BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar belakang
Manusia sebagai makhluk hidup mempunyai kebutuhan yang bersifat fisik dan non fisik. Kebutuhan itu tidak pernah dapat dihentikan selama hidup manusia. Untuk mencapai kebutuhan itu, satu sama lain saling bergantung. Manusia sebagai makhluk sosial tidak mungkin dapat hidup seorang diri. Manusia pasti memerlukan kawan atau orang lain. Oleh karena itu, manusia perlu saling hormat menghormati, tolong menolong dan saling membantu dan tidak boleh saling menghina, menzalimi, dan merugikan orang lain
Dalam upaya menanamkan kepekaan untuk saling tolong menolong, kita dapat mebiasakan diri dengan menginfakkan atau memberikan sebagian rezeki yang kita peroleh meskipun sedikit, seperti memberikan santunan kepada fakir miskin, orang tua dan jompo, mengangkat anak asuh, memberi bantuan kepada orang yang sedang menuntut ilmu, membangun sarana umum (jalan), serta mencari upaya mengentaskan kemiskinan yang ada di masyarakat
Dalam surah al-isra dijelaskan bahwa :
“(26) Dan Berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang ada dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghamburkan (hartamu) dengan boros. (27) Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudaranya setan dan sesungguhnya setan itu sangat ingkar kepada tuhannya.” (QS Al Isra : 26-27)
Allah mengingatkan bahwa betapa buruknya sifat orang yang boros.Mereka dikatakan sebagai saudaranya setan.Orang yang boros bermakna orang yang membelanjakan hartanya dalam perkara yang tidak mengandung manfaat berarti. Ada sebuah hadis yang terkait dengan perbuatan mubazir (boros) ini, yakni yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar. Dia berkata bahwa rasulullah telah melintas di tempat Saad sedang mengambil wudu, kemudian rasulullah menegur Saad karena begitu boros. Lalu Saad menanyakan apakah di dalam wudu juga terdapat boros (mubazir)
Berbuat baik merupakan misi Islam terpenting bagi kehidupan manusia.Islam memerintahkan Muslim untuk berbuat baik kepada semua makhluk, terutama kepada sesama manusia. Dalam Alquran, perintah berbuat baik kadangkala beriringan dengan perintah menegakkan keadilan. Ini mengisyaratkan tegak dan berkembangnya perbuatan baik dalam kehidupan manusia didukung kebiasaan berlaku adil.Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebaikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan”.
B. Rumusan masalah
1.       Apakah yang dimaksud dengan Muamalah ?
2.       Apa sajakah asas-asas transaksi ekonomi dalam islam ?
3.       Bagaimana cara penerapan transaksi ekonomi dalam islam ?
4.       Bagaimana cara berkerja sama yang di benar dalam islam ?
C. Tujuan penulisan
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini yaitu :
1.       Untuk mengetahui apa definisi muamalah.
2.       Untuk mengetahui asas-asas transaksi ekonomi dalam islam.
3.       Untuk mengamalkan cara transaksi ekonomi yang benar menurut islam dalam kehidupan sehari-hari.
4.        Untuk menjelaskan tentang kerja sama yang benar  dalam islam.
D. Manfaat penulisan
1.       Bagi penulis, untuk menambah ilmu pengetahuan mengenai Muamalah.
2.       Bagi siswa, makalah ini disusun untuk membantu siswa mengatahui hukum islam tentang muamalah dan asas-asas transaksi ekonomi dalam islam sehingga dapat diamalakan dalam kehidupan sehari-hari.
3.       bagi guru, makalah ini di susun untuk membantu guru agar mempermudah dalam menyampaikan materi mengenai Hukum Islam Tentang Muamalah dan agar dapat dijadikan referensi bagi guru.


















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Muamalah
Dalam buku enslikopedia islam jilid 3 halaman 245 dijelaskan bahwa muamalah  merupakan bagian dari hukum islam yang mengatur hubungan antara seseorang dan orang lain, baik seseorang itu pribadi tertentu maupun berbentuk badan hukum, seperti perseoran, firma, yayasan, dan negara. Contoh hukum islam yang termasuk muamalah, seperti jual beli, sewamenyewa, perserikatan dibidang pertanian dan perdagangan, serta usaha perbangkan dan asuransi yang islami.
Secara fikih, muamalah berarti hukum-hukum yang ada hubunganya dengan tindakan manusia dengan masalah dunia.contoh muamalah diantaranya jual beli, utang piutang, kerja sama dagang, dan sewa menyewa.
Dari pengertian muamalah tersebut ada yang berpendapat bahwa muamalah hanya menyangkut permasalahan hak dan harta yang muncul dari transaksi antara seseorang dengan orang lain atau antara seseorang dan badan hukum atau antara badan hukum yang satu dan yang lain.

B.  asas-asas Transaksi Ekonomi dalam Islam
                  Pada kesempatan ini kita akan membahas tentang salah satu unsur mualah, yaitu tentang jual beli. Jual beli hanya salah satu unsur muamalah di bidang ekonomi.
                  Pengertian jual beli menurut bahasa adalah menukarkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Adapun secara syarak atau istilah, jual beli dapat berarti menukarkan harta dengan harta ( yang berbentuk  barang benda) menurut cara-cara tertentu.
إِذَا تَبَايَعَ الرَّجُلَانِ فَكُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا وَكَانَا جَمِيعًا أَوْ يُخَيِّرُ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ فَتَبَايَعَا عَلَى ذَلِكَ فَقَدْ وَجَبَ الْبَيْعُ وَإِنْ تَفَرَّقَا بَعْدَ أَنْ يَتَبَايَعَا وَلَمْ يَتْرُكْ وَاحِدٌ مِنْهُمَا الْبَيْعَ فَقَدْ وَجَبَ الْبَيْعُ
“Apabila dua orang berjual-beli, maka setiap orang memiliki hak pilih selama belum berpisah dan keduanya bersepakat, atau (bila) salah satunya memberikan pilihan kepada yang lainnya lalu terjadi jual-beli atas hal itu, maka wajib terjadi jual-beli.(Dan) bila telah berpisah setelah akad jual-beli dan tidak ada yang menggagalkannya, maka wajib jual-belinya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Asas-asas transaksi ekonomi islam adalah sebagai berikut.
1.       Saling menguntungkan
Pihak-pihak yang bertransaksi harus merasa saling diuntungkan.Dalam suatu transaksi tidak boleh ada salah satu pihak yang merasa dirugikan.  Hendaknya kedua belah pihak tersebut harus saling menepati janji.
وَأَوْفُواْ بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْؤُولاً
“Dan penuhilah janji.Sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.”(Qs. al-Isra`: 34)

2.       Sukarela
Dalam melakukan transaksi, pihak-pihak yang bertransaksi melakukannya dengan sukarela dan tidak ada paksaan dari pihak manapun.
3.       Transaksi dilaksanakan dengan niat baik
Dalam islam transaksi harus didasari niat yang baik. Tidak boleh bertransaksi dengan tujuan untuk mencelakakan atau mencuri pihak lain.
4.       Mengikat kedua belah pihak
Transaksi mengikat kedua belah pihak yang bertransaksi.Pihak-pihak yang bertransaksi wajib memenuhi kewajiban yang disepakati dalam transaksi tersebut.

C.  Penerapan Transaksi Ekonomi dalam Islam
        Transaksi ekonomi islam hendaknya diterapkan dalam setiap kegiatan ekonomi. Misalnya, dalam jual beli, simpan pinjam, dan sewa-menyewa.
1.       Jual Beli
A.      Pengertian, dasar hukum, dan hukum jual beli
Jual beli ialah persetujuan saling mengikat antara penjual dan pembeli.Pada masa rasullulah SAW harga barang itu dibayar dengan mata uang yang terbuat dari emas (dinar) dan mata uang yang terbuat dari perak (dirham).
Jual beli sebagai sarana tolong- menolong sesama manusia, didalam islam mempunyai dasar hukum dari Al-Quran dan hadis. Ayat Al-Quran yang menerangkan tentang jual beli antara lain surah Al-Baqarah, 2.:198 dan 275 serta surah Anisa.,4:29
Jual beli dianggap sah terjadi antara dua orang yang telah sama-sama dewasa didasarkan atas suka sama suka. Yang dimaksud dewasa disini ialah akil baligh.Oleh karna itu orang gila tidak sah berjual beli.Dianggap tidak sah juga jual beli orang yang sangat bodoh karena mereka orang-orang yang tidak dapat mengurus dirinya sendiri, apalagi mengurus barang. Apabila mereka melakukan kegiatan jual beli niscahya akan mudah tertipu.



2.       Simpan Pinjam
        Rukun dan syarat hutang piutang atau pinjam meminjam, menurut hukum islam adalah sebagai berikut  :
A.       Yang berpiutang (yang meminjami) dan yang berutang (peminjam), syaratnya sudah balik dan berakal sehat. Yang meminjami atau yang berpiutang, tidak boleh meminta pembayaran melebihi pokok piutang.Sedangkan peminjam tidak boleh melebihi atau menunda-nunda pembayaran hutangnya.
B.       Barang (uang) yang diutangkan atau dipinjamkan adalah milik sah dari yang meminjamkan. Pengembalian utang ayau pinjaman tidak boleh kurang nilainya, bahkan sunah bagi yang berutang (peminjam) mengembalikan lebih dari pokok utangnya.
3.       Ijarah
        Menurut pengertian kebahasaan kata ijarah berasal dari bahasa Arab yang artinya upah, sewa, jasa atau imbalan.Salah satu bentuk kegiatan muamalah dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia, seperti sewa-menyewa, kontrak, dan jasa perhotelan.
        Definisi ijarah menurut ulama mazhab Syahab Syafi’I adalah transakasi tertentu terhadap suatu manfaat yang dituju, bersifat mubah dan bisa dimanfaatkan dengan imbalan tertentu.
A . Macam-Macam Ijarah
Dilihat dari  segi objeknya, ulama fikih membagi akad ijarah menjadi dua macam yaitu :
1. ijarah yang bersifat manfaat sepertti, sewa menyewa, rumah, toko,kendaraan,dan anek busana.
2. iajarah yang bersifat pekerjaan ialah dengan cara memperkerjakan seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَوْفُواْ بِالْعُقُودِ
“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu.” (Qs. al-Maidah: 1)

B. Rukun dan Syarat Ijarah
        Sebagai sebuah transaksi, ijarah dianggap sah jika telah memenuhi rukun dan syaratnya, sebagaimana yang berlaku secara umum dalam transaksi lainnya.
Syarat-syarat akad (transaksi) ijarah adalah sebagai berikut:
1.       Kedua orang ynag bertransaksi (akad) sudah balig dan berakal sehat.
2.       Kedua belah pihak tersebut bertransaksi dengan kerelaan, artinya tidak terpaksa atau dipaksakan.
3.       Barang yang akan disewakan diketahui kondisi dan manfaatnya oleh penyewa.
4.       Objek ijarah bisa diserahkan dan dipergunakan secara langsung dan tidak cacat.
5.       Objek ijarah merupakan sesuatu yang dihalalkan syara’.
6.       Hal yang disewakan tidak termasuk suatu kewajiban bagi penyewa.
7.       Objek ijarah adalah sesuatu yang disewakan,seperti mobil, rumah, aneka busana, dan hewan-hewan tunggangan.
8.       Upah atau sewa dalam transaksi ijarah harus jelas, tertentu, dan sesuatu yang bernilai harta.
C.      Sifat  akad/transaksi ijarah
        Menurut ulama berpendapat bahwa akad atau transaksi ijarah bersifat mengiakat, kecuali ada cacat, atau barang tersebut tidak bisa dimanfaatkan.Karna bersifat mengikat, kematian salah satu pihak yang menyewakan atau penyewa, tidak membatalkan ijarah.Manfaat dari sewa menyewa termasuk harta (al-mal) yang biusa diwariskan.
D.      Sifat akad atau transaksi ijarah
        Ijarah yang berupa pekerjaan, apabila oarang yang diperkerjakan itu bersifat pribadi maka seluruh perkerjaan yang ditentukan untuk dikerjaan menjadi tanggung jawabnya.Hal ini sesui dengan akad atau transaksi antara yang mempekerjakan dengan yang dikerjakan.
E.       Berakhirnya akad ijarah
Ulama fiqih sepakat akad ijarah akan berakhir apabila terjadi dua hal berikut :
1  objek ijarah hilang atau musnah seperti rumah terbakar, atau baju yang dijaitkan hilang
2  habisnya tenggang wakttu yang disepakati dalam akad atau transaksi ijarah. Jika yang disewakan itu sebuah rumah maka setelah habis masa sewanya, rumah itu dikembalikan oleh penyewa kepada pemiliknya.Sedangkan, apabila yang disewa berupa jasa seseorang, maka yang berjasa atau pekerja menerima upah kerja.
                Sebagai penutup dari pembahasan tentang ijarah ini perlu dikemukakan bahwa menurut jumhur ulama rukun ijarah itu ada empat yaitu:
1.       Orang yang berakad
2.       sewa atau iimbalan
3.       manfaat
4.       sigat atau ijab Kabul



D. Kerja Sama Ekonomi dalam Islam
1. Syirkah
          Syirkah (serikat) atau kerja sama adalah merupakan sesuatu akad dalam bentuk kerja sama, baik dalam modal maupun jasa antara pemilik modal atau pemilik jasa tersebut. Dalam suatu kerja sama, ketulusan niat serta kejujuran merupakan hal yang sangat diperlukan. Syirkah biasanya dilakukan oleh dua orang atau lebih dalam membuka suatu usaha dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan.Keuntungan yang diperoleh dibagi sesuai dengan kesepakatan sebelumnya.
          Syirkah dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu syarikat harta dan syarikat kerja.
a.       Syarikat harta (syarikat  ‘inan’)
      Syarikat harta yaitu akad dari dua orang atau lebih untuk bersyarikat atau berkongsi pada harta yang ditentukan dengan maksud untuk memperoleh keuntungan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَكَانَبِكُمْرَحِيماً
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (Qs. an-Nisa`: 29)
Dalam ayat ini, Allah tidak memberikan syarat dalam perdagangan kecuali saling suka (taradhi).Ayat ini menunjukkan bahwa asal dalam muamalah adalah halal.
Syarikat harta itu hendaklah dengan modal uang atau jenis barang lainnya yang disepakati bersama dan dapat ditakar, diukur atau ditimbang, misalnya beras, gula, jagung dan sebagainya, dengan maksud agar dapat diketahui perbandingan jumlah modal dari masing-masing anggota serikat. Hal ini penting untuk menentukan perbandingan jumlah keuntungan atau kerugia yang mungkin terjadi pada tiap akhir taun (akhir usaha).
      Jadi besarnya modal dari masing-masing anggota boleh sama dan boleh pula tidak sama. Modal dari tiap anggota syarikat tersebut hendaklah dicampurkan sehingga menjadi suatu modal yang lebih besar.
      Rukun syirkah harta meliputi hal-hal sebagaai berikut.
a)       Ada orang-orang yang berserikat.
b)       Sigat (lafal akad) atau surat perjanjian.
c)       Modal (pokok pekerjaan).
Syarat syirkah harta meliputi hal-hal sebagai berikut.
a)    Anggota perserikatan harus memenuhi syarat, yaitu :
1.       Balig
2.       Sehat akalnya, dan
3.       Merdeka dengan kehendak sendiri.
b)                   Lafal akad atau surat perjanjian yang berarti izin untuk membelanjakan barang syirkah dan penentuan presentase keuntungan.
c)                   Pokok atau modal harus jelas, dengan ketentuan sebagai berikut.
1.       Jika modal bukan berupa uang, yang berupa barang, maka barang tersebut dapat diuangkan atau dinilai dengan uang.
2.       Jika terjadi dua jenis barang pokok yang berbeda, maka keduanya dicampurkan sehingga akad kedua jenis barang ini tidak dapat dibedakan lagi.
b. Syirkah Kerja/mudarabah
                Syirkah mudarabah merupakan bentuk kerja sama yang terdiri atas dua orang atau lebih yang bergerak dalam satu pekerjaan atau memberikan pelayanan pada masyarakat dengan ketentuan keuntunan menjadi milik bersama dan dibagi sesuai kesepakatan. Kerja sama modal ini disebut juga syirkah kerja.
                Syirkah mudarabah ini dapat dibagi menjadi dua sebagai berikut :
a.       Mudarabah mutlaqah
                Merupakan bentuk kerja sama antara dua pihak dimana satu pihak menjai pemodal dan pihak kedua menjalankan modal untuk kegiatan usaha dan keuntunan dibagi sesuai dengan kesepakatan.
b.       Mudarabah muqayadah
                Merupakan kerja sama dua pihak di mana satu pihak menjadi pemodal dan pihak kedua menjalankan pemodal untuk usaha tertentu dan persyaratan ditentukan oleh pihak pemodal.
                Syarikat kerja dapat dilakukan oleh dua orang atau lebih, bahkan dapat dilakukan oleh orang banyak apabila pekerjaan tersebut merupakan satu pekerjaan besar yang termasuk syarikat kerja diantaranya ialah mencari ikan di laut, berburu binatang du hutan, mengambil batu atau pasir di sungai, mengambil kayu di hutan, membuat rumah atau bangunan-banguan lainnya dan sebagainya.
2.  Muzara’ah, Mukhabarah, dan Musaqah
                1) Muzara’ah dan Mukhabarah
                Muzara’ah ialah paruhan hasil sawah atau ladang antara pemilik dan penggarap,  sedangkan benihnya berasal dari pemilik. Jika benihnya berasal dari penggarap disebut mukhabarah.
                Muzara’ah dan mukhabarah merupakan kerja sama di bidang pertanian yang dibolehkan Islam, dan sesuai dengan ketentuan syara’ dan dalam pelaksanaannya tidak ada unsur kecurangan dan pemaksaan.
                2) Musaqah
                Musaqah ialah paruhan hasil kebun antara pemilik dan penggarap, yang besar bagian masing-masingnya sesuai dengan perjanjian pada waktu akad.Musaqah ini pernah dilaksanakan oleh Rasulullah SAW semasa hidupnya.
3.    Sistem Perbankan yang Islami
                Sistem perbankan yang Islami maksudnya adalah sistem perbankan berdasarkan dan sesuai dengan ajaran Islam yang dapat dirujuk kepada Al-Qur’an dan Hadis. Aktor utama pengelola sistem perbankan yang islami ini biasanya dikenal dengan n ama bank Islam (bank syariah).
4.    Sistem Asuransi yang Islami
                Menurut pengerian bahasa, kata asuransi (yang bahasa Arabnya At-Ta’min) berarti pertanggungan.Menurut istilah, asuransi adalah akad (perjanjian) antara penanggungan (perusahaan asuransi) Dan yang mempertanggungkan sesuatu (peserta perusahaan asuransi).Peserta perusahaan asuransi dalam periode tertentu (misal setiap bulannya) berkewajiban membayar premi kepada perusahaan asuransi, yang besarnya sesuai dengan perjanjian antara keduanya.Sedangkan kewajiban persahaan asuransi ialah memberikan sejumlah uang kepada peserta asuransi yang besarnya dan waktunya sesuai dengan perjanjian (polis).
5.    hikmah Kerja Sama Ekonomi yang Islami
                Apabila kerja sama ekonomi yang islami ini betul-betul diterapkan dalam kehidupan masyarakat, tentu banyak hikmah dan manfaat yang dapat diambil. Coba kamu diskusikan dengan teman-temanmu, apa saja hikmah dan manfaat dari kerja sama ekonomi yang islami.


















BAB III
PENUTUP
A.      Simpulan
Adapun simpulan dari penulisan makalah ini yaitu :
a.       Yang dimaksud dengan muamalah adalah hukum-hukum yang ada hubunganya dengan tindakan manusia dengan masalah dunia.
b.       Allah menyuruh umat manusia untuk senantiasa bertransaksi ekonomi sesuai dengan apa yang di atur dalam islam.
c.       Allah menyuruh umat manusia untuk berlaku tulus serta jujur  merupakan hal yang sangat diperlukan.

B.      SARAN
Seharusnya sebagai seorang umat muslim kita melakukan transaksi ekonomi dengan jujur dan niat yang baik sehingga apa yang kita terima mendapatkan ridho dari  Allah SWT.

























DAFTAR PUSTAKA
Departemen Agama RI, 1982, Pendidikan Agama Islam untuk siswa SMA Kelas 1, Ghalia Indonesia, Jakarta.
Departemen Agama RI, 1982, Pendidikan Agama Islam untuk siswa SMA Kelas 2, Ghalia Indonesia, Jakarta.
Drs. Widianto, 2006, Pendidikan Agama Islam untuk siswa SMA Kelas XI, VIVA PAKARINDO, Jawa Tengah.
Syamsuri, 2007, Pendidikan Agama Islam untuk siswa SMA Kelas XI, 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar